<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8891140840491972104</id><updated>2012-02-16T12:33:01.748-08:00</updated><title type='text'>Klinik Kesehatan Lingkungan</title><subtitle type='html'>Environmental Health Care</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://deltu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8891140840491972104/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deltu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>del2_ari1</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13633246207145859574</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8891140840491972104.post-1749701867945262531</id><published>2011-02-02T22:30:00.000-08:00</published><updated>2011-02-02T22:55:16.661-08:00</updated><title type='text'>Mengawal Hukum Lingkungan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_59Y2Gnp569E/TUpMDmudxGI/AAAAAAAAAA8/URUOB4kAxPM/s1600/2010_06_03_05_50_32_polisi-ct.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 300px; height: 250px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_59Y2Gnp569E/TUpMDmudxGI/AAAAAAAAAA8/URUOB4kAxPM/s320/2010_06_03_05_50_32_polisi-ct.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5569347514015794274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Akhmad Solihin (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MESKI istilah undang-undang pokok tidak dikenal lagi dalam sistem dan  kedudukan peraturan perundang-undangan sekarang ini, namun keberadaan  UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan  Hidup (PPLH) diharapkan menjadi payung hukum dalam menjaga kelestarian  sumberdaya dan lingkungan Indonesia. Hal ini dikarenakan, setidaknya  terdapat 23 undang-undang yang bersifat sektoral yang mengatur bidang  sumberdaya alam dan lingkungan (Tabel 1).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Selain dikhawatirkan menimbulkan konflik hukum yang berujung pada  konflik kepentingan antar lembaga tinggi negara akibat tumpang tindih  aturan. Banyaknya peraturan perundang-undangan tersebut dapat  menimbulkan inefisiensi dalam tataran implementasi di lapangan. Lantas  apa yang harus dilakukan pemerintah dalam mengawal hukum lingkungan yang  dihadapkan pada kompleksitas permasalahan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Payung Hukum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang telah disebutkan, pada dasarnya UU PPLH adalah  payung hukum (law umbrella) dalam mengawal hukum lingkungan di  Indonesia. Hal ini tercermin dari Pasal 44, yang menyebutkan bahwa "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Setiap  penyusunan peraturan perundang-undangan pada tingkat nasional dan  daerah wajib memperhatikan perlindungan fungsi lingkungan hidup dan  prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan  ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;". Artinya, dalam menyusun peraturan perundang-undangan, harus menjadikan UU PPLH sebagai pedoman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Pasal 44 diatas, ada beberapa hal yang harus  diperhatikan oleh semua pihak dalam penyusunan peraturan  perundang-undangan, baik di tingkat pusat seperti undang-undang,  peraturan pemerintah, peraturan presiden dan peraturan menteri atau  lembaga negara lainnya, maupun pemerintah daerah seperti peraturan  daerah dan peraturan desa. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan  tersebut, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;, kewajiban  memperhatikan perlindungan fungsi lingkungan hidup. Menurut UU PPLH,  pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk  memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.  Daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung  perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan  antarkeduanya. Sementara daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan  lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang  masuk atau dimasukkan ke dalamnya.&lt;br /&gt;Artinya, dalam proses penyusunan peraturan perundang-undangan, para  pihak harus mampu memperhatikan keseimbangan alam. Kalau hal ini  diabaikan, maka bencana adalah jawaban atas ketidakseimbangan alam  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;, wajib memperhatikan  prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 2 memuat 14  prinsip-prinisp perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, yaitu:  tanggung jawab negara, kelestarian dan keberlanjutan, keserasian dan  keseimbangan, keterpaduan, manfaat, kehati-hatian, keadilan, ekoregion,  keanekaragaman hayati, pencemar membayar, partisipatif, kearifan lokal,  tata kelola pemerintahan yang baik, dan otonomi daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh suatu prinsip yang sangat lengkap, berbeda dengan prinsip  pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang pada UU No. 23 Tahun 1997  tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dimana pengelolaan lingkungan  hidup diselenggarakan berdasarkan asas tanggung jawab negara, asas  berkelanjutan, dan asas manfaat yang bertujuan untuk mewujudkan  pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka  pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat  Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha  Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dicermati, maka UU No. 23 Tahun 1997 hanya memuat tiga  prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan hidup, yaitu tanggung jawab  negara, berkelanjutan, dan manfaat. Hal ini sangat wajar, karena  undang-undang ini dilahirkan pada rezim orde baru yang kental dengan  suasana sentralistik dan penyeragaman. Ini berbeda jauh dengan  prinsip-prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang  dituangkan pada UU PPLH, yang lahir di era desentralistik dan  keterbukaan, sehingga memuat beberapa prinsip-prinsip keterbukaan,  seperti partisipatif, kearifan lokal, tata kelola pemerintahan yang  baik, dan otonomi daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mandat Hukum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Di tengah ancaman kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan,  ego-sektoral serta konflik kepentingan antar lembaga negara yang  tercermin dari aturan yang tertuang pada undang-undang sektoral, maka  peraturan pelaksana yang diamanatkan oleh UU PPLH harus sesegera mungkin  dikeluarkan. Hal ini sesuai Pasal 126, yang menyebutkan bahwa  "Peraturan pelaksanaan yang diamanatkan dalam undang-undang ini  ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak undang-undang ini  diberlakukan".&lt;br /&gt;���&lt;br /&gt;Dengan demikian, Pemerintah yang dalam hal ini adalah Kementerian  Lingkungan Hidup (KLH) sebagaimana yang diamanatkan UU PPLH, harus  bergerak cepat untuk menyelesaikan 20 Peraturan Pemerintah dan 9  Peraturan Menteri (Tabel 2). Waktu yang diberikan adalah satu tahun  sejak undang-undang diberlakukan, sehingga apabila 3 Oktober 2009 adalah  tanggal pengesahan UU PPLH, maka peraturan pelaksananya harus  ditetapkan sebelum bulan Oktober 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, sudah 6 bulan berlalu sejak UU PPLH diberlakukan.  Pertanyaannya adalah, sudah berapa peraturan pelaksana yang sudah  ditetapkan? Selain peraturan pelaksana, UU PPLH juga menunjuk  pembentukan Undang-undang Pelaksanaan Penegakan Hukum Terpadu. Penegakan  hukum terpadu ini dilakukan dengan melibatkan penyidik pegawai negeri  sipil (PPNS), kepolisian, dan kejaksaan di bawah koordinasi Menteri  Lingkungan Hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, kejar tayang KLH dalam menyusun peraturan pelaksana  harus tetap menjaga kualitas produk hukum dengan cara memperhatikan  aspirasi para pemangku kepentingan, khususnya masyarakat lapisan bawah  (grass root) yang selama ini selalu menjadi korban kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rekayasa Sosial&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Para ahli hukum sepakat, bahwa hukum adalah alat yang ampuh untuk mencapai pembaharuan masyarakat (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;a tool social engineering&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;),  suatu istilah yang dikembangkan oleh Roscue Pound. Hal ini dikarenakan,  peranan hukum dalam pembangunan adalah untuk menjamin bahwa perubahan  itu tejadi dengan cara yang teratur, yang dapat dibantu oleh peraturan  perundang-undangan (Kusumaatmadja, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks hukum lingkungan, keberadaan UU PPLH berperan untuk  mengatur dan membatasi tindakan setiap individu, kelompok masyarakat  atau suatu lembaga badan hukum dalam memanfaatkan sumberdaya alam,  sehingga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungannya tetap terjaga  secara berkelanjutan. Selain itu, UU PPLH juga berisikan  kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap subjek hukum dan  larangan untuk tidak melakukan perbuatan tertentu terhadap lingkungan  hidup. Oleh karenanya, untuk menjamin tingkat kepatuhan tehadap hukum  lingkungan tersebut, maka bagi setiap subjek hukum yang melanggar akan  dikenakan sanksi administrasi, perdata, pidana dan tindakan tata tertib  sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, untuk menciptakan kepastian hukum maka diperlukan  penyempurnaan hukum lingkungan, melalui penyusunan peraturan pelaksana  sebagaimana yang diamanatkan oleh UU PPLH. Mengingat, kebiasaan yang  umumnya terjadi adalah, kurangnya keseriusan pemerintah dalam membuat  peraturan pelaksana. Akibatnya adalah, masyarakat menafsirkan  undang-undang secara parsial. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1. Perundang-undangan di Bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;style&gt;@font-face {   font-family: "TimesNewRoman"; }p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal { margin: 12pt 0in 3pt; text-align: center; font-size: 11pt; font-family: Calibri; }div.Section1 { page: Section1; }&lt;/style&gt; &lt;/p&gt;&lt;table style="border: medium none; border-collapse: collapse; text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px; font-weight: bold;" class="MsoNormalTable" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;No.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Undang-undang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Tentang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 5/1960&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  &gt;Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 1/1973&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  &gt;Landas Kontinen Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 5/1983&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  &gt;Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 5/1984&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Perindustrian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 17/1985&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  lang="SV" &gt;Pengesahan Konvensi PBB tentang Hukum   Laut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 5/1990&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  lang="SV" &gt;Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 16/1992&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  lang="NL" &gt;Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuh-tumbuhan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;8.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 5/1994&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  &gt;Pengesahan   Konvensi Keanekaragaman Hayati&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;9.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 41/1999&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kehutanan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;10.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 22/2001&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Minyak   dan Gas Bumi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;11.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 7/2004&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber   Daya Air&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;12.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 31/2004&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Perikanan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;13.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 26/2007&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penataan   Ruang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;14.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 27/2007&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengelolaan   Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;15.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 17/2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pelayaran&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;16.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 18/2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengelolaan   Sampah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;17.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 4/2009&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  &gt;Pertambangan Mineral dan Batubara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;18.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 10/2009&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  &gt;Kepariwisataan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;19.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 18/2009&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  &gt;Peternakan   dan Kesehatan Hewan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;20.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 32/2009&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  &gt;Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;21.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 30/2009&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  &gt;Ketenagalistrikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;22.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 41/2009&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  lang="SV" &gt;Perlindungan Lahan Pertanian Pangan   Berkelanjutan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;23.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 98.4pt;" valign="top" width="131"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU   No. 45/2009&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 279pt;" valign="top" width="372"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:TimesNewRoman;font-size:85%;"  lang="SV" &gt;Perubahan Atas UU Nomor 31/2004 tentang   Perikanan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2. Undang-undang dan Peraturan Pelaksana yang Diamanatkan UU PPLH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px; font-weight: bold;" width="100%" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="detail" valign="top" width="70%"&gt;&lt;style&gt;p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal { margin: 12pt 0in 3pt; text-align: center; font-size: 11pt; font-family: Calibri; }div.Section1 { page: Section1; }&lt;/style&gt; &lt;table style="border: medium none; border-collapse: collapse;" class="MsoNormalTable" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;No.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Pasal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Tentang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Mandat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 95 ayat (2)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pelaksanaan penegakan   hukum terpadu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Undang-undang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 11&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Inventarisasi   Lingkungan hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 12 ayat (4)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tata cara penetapan   daya dukung dan daya tamping lingkungan hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 18 ayat (2)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Tata cara penyelenggaraan kajian lingkungan hidup strategis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 20 ayat (4)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Baku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; mutu lingkungan hidup   untuk air, air laut, udara ambien, dan baku  mutu lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 21 ayat (5)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 33&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Amdal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;8.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 41&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Izin lingkungan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;9.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 43 ayat (4)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Instrumen ekonomi   lingkungan hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;10.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 47 ayat (3)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Analisis risiko   lingkungan hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;11.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 53 ayat (3)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Tata cara penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;12.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 54 ayat (3)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Tata cara pemulihan fungsi lingkungan hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;13.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 55 ayat (4)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Dana penjaminan untuk pemulihan fungsi lingkungan hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;14.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 56&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengendalian   pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;15.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 57 ayat (5)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Konservasi dan pencadangan sumber daya alam serta pelestarian fungsi   atmosfer&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;16.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 58 ayat (2)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengelolaan B3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;17.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 59 ayat (7)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengelolaan limbah B3&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;18.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 61 ayat (3)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Tata cara dan persyaratan dumping limbah atau bahan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;19.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 75&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tata cara pengangkatan   pejabat pengawas lingkungan hidup dan tata cara pelaksanaan pengawasan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;20.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 83&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sanksi administratif&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;21.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 86 ayat (3)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lembaga penyedia jasa   penyelesaian sengketa lingkungan hidup diatur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;22.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 20 ayat (5)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Baku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; mutu lingkungan hidup   untuk air limbah, emisi, dan gangguan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Menteri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;23.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 23 ayat (2)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jenis usaha dan/atau   kegiatan yang wajib dilengkapi dengan amdal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Menteri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;24.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 28 ayat (4)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sertifikasi dan   kriteria kompetensi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penyusun   amdal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Menteri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;25.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 29 ayat (3)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Persyaratan dan tatacara   lisensi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Menteri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;26.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 35 ayat (3)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UKL-UPL dan surat pernyataan   kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Menteri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;27.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 52&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Audit lingkungan hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Menteri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;28.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 62 ayat (4)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sistem informasi lingkungan   hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Menteri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;29.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 65 ayat (6)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tata cara pengaduan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Menteri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;30.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 53.4pt;" valign="top" width="71"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pasal 90 ayat (2)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 202.5pt;" valign="top" width="270"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kerugian lingkungan   hidup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 123.4pt;" valign="top" width="165"&gt;         &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: left;" class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan   Menteri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8891140840491972104-1749701867945262531?l=deltu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deltu.blogspot.com/feeds/1749701867945262531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deltu.blogspot.com/2011/02/meski-istilah-undang-undang-pokok-tidak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8891140840491972104/posts/default/1749701867945262531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8891140840491972104/posts/default/1749701867945262531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deltu.blogspot.com/2011/02/meski-istilah-undang-undang-pokok-tidak.html' title='Mengawal Hukum Lingkungan'/><author><name>del2_ari1</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13633246207145859574</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_59Y2Gnp569E/TUpMDmudxGI/AAAAAAAAAA8/URUOB4kAxPM/s72-c/2010_06_03_05_50_32_polisi-ct.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8891140840491972104.post-5968864951700051918</id><published>2011-02-02T22:28:00.000-08:00</published><updated>2011-02-02T22:39:44.159-08:00</updated><title type='text'>Upaya Pelestarian Bukit Sepuluh Ribu di Tasikmalaya Oleh : Ruli As</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TASIKMALAYA mempunyai keunikan tersendiri dibanding dengan  daerah-daerah lain di belahan Nusantara, yaitu dengan memiliki jumlah  bukit yang cukup banyak yang tersebar di hampir seluruh kawasan,  sehingga bisa dibilang salah satu keajaiban dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sejarah, diketahui bahwa Gunungapi Galunggung telah  mengalami beberapa kali letusan (erupsi) dengan intensitas dan kekuatan  yang berbeda-beda, yaitu: sebelum tahun 1822 yang erupsinya sangat  dahsyat, yang salah satu akibatnya adalah terbentuknya Bukit Sepuluh  Ribu Tasikmalaya (Bahasa Sunda: Gunung Sarewu). Bukit-bukit ini tersebar  ke sebelah tenggara dari mulut depresi, dengan ketinggian yang  bervariasi. Bukit-bukit ini kemudian dikenal dengan sebutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Ten Thousand Hills of Tasikmalaya &lt;/span&gt;atau  Bukit Sepuluh Ribu Tasikmalaya. Letusan Gunungapi Galunggung  selanjutnya terjadi pada tahun 1982 yang kegiatan vulkanismenya  berlangsung hampir setahun sampai pada awal tahun 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1978, jumlah bukit yang tersebar dari sekitar Gunung  Galunggung, 20 kilometer arah barat Kota Tasikmalaya, terus ke arah  timur dan tenggara hingga ke Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya,  serta Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya ini tercatat mencapai  3.468 bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1980, jumlah bukit itu terus berkurang karena banyak  yang diratakan untuk kemudian berubah fungsi menjadi perkampungan.  Menurut Prof. Dr. H.M. Ahman Sya, tingkat kepunahan bukit di Tasikmalaya  saat ini sudah mencapai 5% per tahun atau 15 bukit per tahun. Tahun  1996 jumlah bukit masih tercatat sekira 3.050 dan saat ini jumlahnya  hanya tinggal sekitar 3.000 bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak yang sekarang dirasakan akibat dari kepunahan bukit adalah  naiknya suhu udara di wilayah kota Tasikmalaya (udara tidak sejuk lagi),  karena bukit yang memiliki pepohonan yang rimbun sudah tidak ada  sehingga bukit yang tadinya berfungsi sebagai penghasil oksigen alami  atau bisa disebut paru-paru kota berubah menjadi kawasan yang gersang  dan tidak hijau lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dari sisi keindahan, kota Tasikmalaya yang selama ini hijau  dan terkenal asrinya (sesuai dengan slogan Tasik Kota Resik), suatu saat  akan berubah menjadi kota yang gersang  karena ulah segelintir manusia  yang tidak bertanggungjawab sehingga julukan "kota bukit sepuluh ribu"  itu hanya tinggal kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan kerusakan bukit sepuluh ribu menjadikan kawasan  Tasikmalaya diambang krisis lingkungan. Ketidakberdayaan masyarakat  menghadapi penambangan yang tanpa memperhitungkan kondisi lingkungan  merupakan masalah utama yang  dikarenakan tuntutan kebutuhan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hakikat Bukti Sepuluh Ribu di Tasikmalaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tasikmalaya adalah sebuah kawasan yang terletak di daerah  Parahiyangan (Jawa Barat). Bentang alam Tasikmalaya mempunyai keunikan  tersendiri, yaitu banyaknya dataran yang berbukit-bukit dengan  ketinggian antara 10 - 50 meter, bukit-bukit tersebut tersebar mulai  lereng kaki Gunungapi Galunggung sebelah tenggara hingga ke sebelah  selatan menempati sebagian wilayah daerah Singaparna, ke sebelah timur  hingga daerah Cibeureum, dan ke sebelah utara ke daerah Indihiang.  Karena banyaknya bukit yang ada, pada tahun 1941 seorang ahli geologi  dari Belanda bernama Van Benmellen dalam bukunya berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Geology of Indonesia&lt;/span&gt;, menjuluki Tasikmalaya sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Ten Thousand Hills of Tasikmalaya&lt;/span&gt; (Tasikmalaya, Kota Bukit Sepuluh Ribu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukit Sepuluh Ribu mempunyai variasi dalam ketinggian dan ukurannya.  Ukuran bukit-bukit tersebut secara berurutan, berukuran relatif besar  di lereng Gunungapi Galunggung, berukuran sedang di daerah tengah, dan  berukuran semakin kecil di daerah yang agak jauh dari Gunungapi  Galunggung. Bukit-bukit ini mengandung material piroklastika berupa  pasir, kerikil, batuan bekuan bongkah, tufa, dan material lainnya.  Bahan-bahan material inilah yang dieksploitasi dan mempunyai nilai  ekonomis untuk dijadikan bahan-bahan atau material bangunan dan urugan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;landfill material&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian terbentuknya Bukit Sepuluh Ribu ini tidak lepas dari  aktivitas Gunungapi Galungung dari waktu ke waktu. Beberapa ahli geologi  Belanda yang pernah bekerja di Indonesia, seperti Echer (1925), Neuman  van Padang (1939), dan van Bemmelen (1949) berpendapat bahwa  terbentuknya bukit-bukit itu disebabkan oleh eflata Gunungapi Galunggung  ke sebelah tenggara. Junghuhn (1853) menyatakan bahwa letusan Gunungapi  Galunggung pada 1822 telah melahirkan beberapa bukit baru, dan penduduk  waktu itu dapat membedakan mana bukit yang baru dan yang lama.  Bukit-bukit yang telah ada pada waktu itu tidak diketahui proses  kejadiannya, karena letusan pada 1822 sebagian bukit-bukit itu telah  ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fungsi dan Pentingnya Pelestarian Bukit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ahman Sya (2004 : 21), bahwa bukit-bukit yang keberadaannya  cukup banyak ini merupakan sumber kehidupan dan kesejahteraan. Hal ini  dapat diamati dari beberapa fungsi dari keberadaan bukit-bukit tersebut,  di antaranya: fungsi geologis, fungsi ekologis, fungsi hidrologis,  fungsi estetika, fungsi ekonomi, fungsi pertahanan, fungsi pendidikan  dan pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara geologis, bukit-bukit ini adalah bentukan alam yang termasuk  salah satu keajaiban dunia. Tidak terdapat bukit sepuluh ribu lain di  belahan dunia ini, kecuali di Tasikmalaya. Di samping itu keberadaannya  dapat berfungsi sebagai benteng alami dari kemungkinan banjir lahar  Galunggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang ekologis, Bukit Sepuluh Ribu memiliki peran  sebagai daerah hijau dan terbuka untuk memelihara kenyamanan dan  keseimbangan lingkungan, sehingga terjadi hubungan timbal balik antara  manusia dengan lingkungannya secara ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi hidrologis, keberadaan bukit-bukit Sepuluh Ribu berfungsi  sebagai daerah resapan air yang akan mampu memelihara stabilitas sumber  dan kedalaman airtanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ekonomis, bukit sepuluh ribu adalah sumber kehidupan yang  mampu mensuplai kebutuhan pangan dan kayu-kayuan sebagai bahan bangunan.  Karena itu dalam jangka panjang hal ini bukan hanya akan berperan dalam  hal ketahanan perumahan. Bahkan bukit-bukit ini akan berfungsi sebagai  tempat perlindungan dan tempat yang aman bagi evakuasi jika terjadi  bencana banjir dari letusan Galunggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari segi pendidikan dan pariwisata, yang bukan saja akan  meningkatkan pemahaman dan rasa cinta tanah air, juga dapat menjadi  masukan pendapatan bagi pemerintah untuk kepentingan pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor Penyebab Kerusakan Bukit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pertumbuhan penduduk yang tergolong cepat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perencanaan pembangunan yang tidak beraturan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bisnis yang menggiurkan dari hasil tambang batuan dan pasir dari bukit &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya pelestarian bukit &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Solusi Penyelamatan Bukit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sosialisasi kepada masyarakat dapat dilakukan dengan menyampaikan  hal-hal yang berkaitan dengan pentingnya pelestarian bukit bagi  kehidupan manusia, dampak negatif dari kerusakan bukit dan memberikan  solusi untuk mengatasinya. Langkah ini ditempuh dengan melibatkan  seluruh unsur masyarakat Tasikmalaya, misalnya terdiri dari Pemerintah  Daerah, hal ini untuk menunjukkan keseriusan program pelestarian,  sehingga perencanaannya harus dilakukan langsung oleh puncak pimpinan  daerah. Selain itu dari kalangan kampus yang berada di dekat lokasi  bukit sepuluh ribu juga bisa dilibatkan, misalnya memotori suatu program  dengan tema "Selamatkan bukit kita", atau "Sayangilah bukit kita".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai julukan kota Tasikmalaya adalah kota santri, maka tak kalah  pentingnya juga para kyai dengan para santri yang ada di  pesantren-pesantren ikut berpartisipasi dalam mensosialisasikan program  ini dengan ceramah-ceramah yang berkaitan dengan fiqh al-bi�ah  (yurisprudensi Islam mengenai lingkungan hidup). Peranan ulama  dibutuhkan karena kedekatannya dengan masyarakat sekitarnya, sehingga  diharapkan timbul kesadaran yang secara syariat memang suatu keharusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun obyektif dari Program sosialisasi terhadap aksi penyelamatan  bukit sepuluh ribu di tasikmalaya kurang lebih adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Tercapainya kesadaran bahwa kepunahan bukit mengakibatkan  keseimbangan alam terganggu yang ke depannya mengancam berbagai proses  alam yang mendukung kehidupan saat ini dan masa depan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tercapainya kesadaran bahwa perlunya upaya nyata dan  berkesinambungan guna menghambat laju kerusakan bukit dan melindungi  bukit yang tersisa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tercapainya kesadaran bahwa generasi mendatang sangat bergantung  pada kearifan kita dalam mengelola sumber daya alam saat ini. Bila kita  mewariskan alam yang rusak berarti kita telah merampas hak generasi  mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rancangan Aksi Penyelamatan Bukit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;a.Pemetaan Bukit &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melakukan pemetaan terhadap bukit mana saja yang mendesak untuk  diselamatkan. Hal ini dikarenakan adanya bukit yang menjadi daerah  resapan air atau menjadi kantung-kantung air. Misalnya, bukit yang  berada di sekitar pinggir danau, daerah yang banyak kolam perikanan air  tawar dan daerah-daerah yang tidak dialiri oleh sungai atau irigasi  buatan. Dari pemetaan tersebut dihasilkan daftar bukit mana saja yang  harus segera diselamatkan.&lt;br /&gt;Pemetaan bisa dilakukan dengan membuat data tentang jumlah bukit  yang tersisa yang perlu dijaga kelestariannya, bukit yang memerlukan  konservasi, bukit yang sudah punah, dan bukit yang benar-benar  memerlukan penangan dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;b.Proyek Pembebasan Bukit &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Membuat Proyek pembebasan bukit dengan diprakarsai dan didanai  langsung oleh pemerintah daerah bersama departemen yang bersangkutan,  hal ini untuk membuktikan keseriusan akan program yang diaksanakan.  Pembebasan bukit sangat diperlukan karena bukit-bukit tersebut dimiliki  oleh individu masyarakat. Namun, tetap diharapkan adanya kesadaran dari  masyarakat yang dengan kesadarannya sendiri untuk tidak melakukan  eksploitasi pada bukit yang tersisa. Walaupun kesadaran tersebut sangat  sulit apabila sudah berbenturan dengan urusan uang, karena bukit itu  dari segi finansial sangat menguntungkan jika dijadikan lahan  pertambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;c.Melakukan Pembebasan Bukit dengan Swadaya Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melakukan pembebasan bukit dengan swadaya masyarakat. Langkah inilah  yang paling diharapkan dari proses pogram sosialisasi seperti yang  disebut diatas. Pendanaan dengan swadaya masyarakat dapat ditempuh  dengan berbagai cara, misalnya dengan mengumpulkan dana masyarakat  melalui suatu Yayasan yang di bentuk dengan tujuan khusus pembelian dan  pembebasan lahan bukit sepuluh ribu yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembagian Wilayah Bukit (Zonasi Wilayah Bukit)  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Zonasi wilayah bukit sepuluh ribu sangat di perlukan yaitu untuk  menyelamatkan bukit sepuluh ribu yang tersisa supaya tetap lestari.  Pembagian wilayah bukit sepuluh ribu bisa dilakukan dengan membagi  wilayah berdasarkan:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Zona Resapan Air&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;  Zona resapan air ini adalah suatu zona yang merupakan komplek bukit  yang tidak boleh di bongkar yang fungsinya sebagai daerah resapan air.  Hal itu  bertujuan jika musim kemarau  masyarakat tidak akan kekurangan  air karena bisa memanfaatkan cadangan air yang ada di bukit misalnya  dengan membuat sumur galian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Zona Pertambangan&lt;/span&gt;,  Zona ini terdiri dari suatu kawasan yang terdiri dari bukit-bukit yang  diperbolehkan untuk dijadikan lahan pertambangan dengan mempertimbangkan  segala sesuatu yang bias terjadi terlebih dahulu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Zona Pariwasata&lt;/span&gt;,  Zona ini bisa dijadikan suatu lokasi pariwisata yaitu dengan membangun  fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan untuk lokasi pariwisata misalnya:  membangun wahana bermain, penginapan, dan sebagainya dengan tidak  merusak keadaan alam akan tetapi sebaliknya merawat dan melestarikan  kondisi alam, sehingga keuntunganpun bisa diperoleh tanpa harus merusak  bukit.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Zona Pendidikan&lt;/span&gt;,  Zona ini merupakan suatu kawasan yang bisa dijadikan suatu objek  pembelajaran baik dari bentang alam (tofografi) maupun dari segi  kandungan unsur-unsur yang ada di dalam bukit misalnya dengan membangun  labolatorium yang berisi tentang segala hal yang berkaitan dengan The  Ten Thousand Hill of Tasikmalaya. Alangkah baiknya seandainya pada  beberapa bukit yang diproteksi dibangun sebuah musium mini yang  memberikan informasi tentang proses terbentuknya dan manfaat Bukit  Sepuluh Ribu itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Zona Hutan Kota&lt;/span&gt;,  Seperti di sebutkan pada penjelasan diatas bahwa bukit memiliki fungsi  sebagai tempat produksi oksigen, maka dari itu selain menjaga  kelestarian bukit zona ini juga bisa dijadikan sebagai produksi oksigen  di kota Tasikmalaya dengan menanami dan merawat bukit sehingga bukit  tersebut bisa dikatakan sebagai Hutan Kota.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan kerusakan bukit sepulu ribu menjadikan kawasan  Tasikmalaya diambang krisis lingkungan. Ketidakberdayaan masyarakat  menghadapi penambangan yang tanpa memperhitungkan kondisi lingkungan  merupakan masalah utama yang  dikarenakan tuntutan kebutuhan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi masalah kerusakan bukit sepuluh ribu  maka  diperlukan adanya aksi penyelamatan terhadap bukit yang tersisa. Dalam  hal ini solusi yang bisa di laksanakan adalah dengan malakukan  sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pelestarian bukit,  merancang aksi penyelamatan bukit dengan membuat program: Pemetaan bukit  sepuluh ribu, pembebasan bukit sepuluh ribu dengan bantuan dana  pemerintah, melakukan pembebasan bukit dengan swadaya masyarakat,  dan  membuat zonasi bukit sepuluh ribu yaitu Zona resapan air, zona  pertambangan, zona pariwisata, zona pendidikan, dan zona hutan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memaksimalkan tiap program yang akan di laksanakan dalam  penyelamatan bukit sepuluh ribu maka harus ada kesadaran dari masyarakat  dan untuk masyarakat setempat perlu adanya pemahaman secara  komprehensif mengenai pemanfaatan fungsi bukit bukan hanya untuk dijual,  melainkan pemanfaatan yang lebih memikirkan jangka panjang. Adapun yang  dapat dilakukan untuk pemerintah daerah, perlu adanya zonasi  bukit-bukit yang boleh dieksploitasi dan bukit-bukit yang tidak boleh  dieksploitasi yang dituangkan dalam suatu peraturan daerah (Perda).(*) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8891140840491972104-5968864951700051918?l=deltu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deltu.blogspot.com/feeds/5968864951700051918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deltu.blogspot.com/2011/02/upaya-pelestarian-bukit-sepuluh-ribu-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8891140840491972104/posts/default/5968864951700051918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8891140840491972104/posts/default/5968864951700051918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deltu.blogspot.com/2011/02/upaya-pelestarian-bukit-sepuluh-ribu-di.html' title='Upaya Pelestarian Bukit Sepuluh Ribu di Tasikmalaya Oleh : Ruli As'/><author><name>del2_ari1</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13633246207145859574</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8891140840491972104.post-2552853950823409544</id><published>2011-02-02T22:24:00.000-08:00</published><updated>2011-02-02T22:52:18.791-08:00</updated><title type='text'>Penataan Ruang Berbasis Bencana</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_59Y2Gnp569E/TUpM2JyLPTI/AAAAAAAAABE/vIBftxqBA7I/s1600/2010_06_03_05_47_16_jembatan-ct.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 300px; height: 250px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_59Y2Gnp569E/TUpM2JyLPTI/AAAAAAAAABE/vIBftxqBA7I/s320/2010_06_03_05_47_16_jembatan-ct.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5569348382420057394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Novi Rahmawati (Mahasiswa S2 UGM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERBAGAI bencana yang terjadi akhir-akhir ini merujuk suatu wacana  tentang perencanaan tata ruang wilayah berbasis bencana. Bencana yang  terjadi secara beruntun di Indonesia yang diakibatkan penggunaan tata  ruang yang tidak mengindahkan kemampuan dan daya dukung lingkungan  menyebabkan akumulasi kerusakan yang terjadi terus menerus dan  menyebabkan terjadinya bencana. Berbagai bencana yang terjadi dapat  diatasi dengan perencanaan keruangan wilayah berdasarkan daya dukung dan  kemampuan lingkungan. Berbagai faktor daya dukung dan kemampuan  lingkungan dipertimbangkan untuk mengidentifikasi dan mitigasi bencana  dalam suatu wilayah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan spasial pengelolaan lingkungan suatu wilayah berbasis  bencana dapat didasarkan konsep pendekatan pengelolaan Daerah Aliran  Sungai (DAS) dan Pesisir. Pembatasan spasial perencanaan berdasarkan  Daerah Aliran Sungai dan Pesisir akan mempermudah managemen, mitigasi  dan adaptasi bencana yang terjadi di suatu wilayah.  Siklus aliran air  dari pegunungan, perbukitan, untuk kemudian ke daerah yang lebih rendah  dan ke lembah dan pada akhirnya ke pesisir dan menuju ke laut akan  mempengaruhi proses yang terjadi di suatu wilayah berdasarkan  karakterisitk dan daya dukung lingkungan. Air sebagai agen yang  mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi proses yang terjadi di suatu  wilayah akan lebih baik dan maksimal jika diatur berdasarkan batasan  pergerakan siklus aliran air yaitu batasan Daerah Aliran Sungai dan  Pesisir. Managemen lingkungan dengan membatasi Daerah Aliran Sungai dan  Pesisir sebagai satu kesatuan ekosistem akan mempengaruhi proses yang  terjadi di masa mendatang berdasarkan daya dukung dan kemampuan  lingkungan di DAS dan pesisir. Yang pada akhirnya dapat digunakan  sebagai acuan identifikasi bencana di Daerah Aliran Sungai dan Pesisir.  Sehingga sebagai satu kesatuan ekosistem, managemen terpadu pengelolaan  DAS dan pesisir dengan bertumpu pada bencana sebagai aspek penyusun tata  ruang dapat diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka awal sebagai acuan perencanaan tata ruang wilayah adalah  identifikasi multi ancaman bencana yang dapat terjadi di DAS dan pesisir  dengan melakukan inventarisasi berbagai ancaman bencana. Ancaman  bencana di DAS dan pesisir dibedakan menjadi dua bagian yaitu ancaman  bencana yang terjadi di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Upland &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt; lowland are&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;a.  Ancaman bencana di Upland area merupakan ancaman yang dapat terjadi di  daerah hulu, misalnya pegunungan, perbukitan. Ancaman yang di lowland  area atau daerah hilir seperti daerah pesisir. Ancaman bencana yang  dapat terjadi di upland area contohnya longsor, gunung meletus, erosi,  kebakaran hutan, dsb. Sedangkan bencana yang dapat terjadi di lowland  area adalah kekeringan, banjir dari pasang surut air laut dan dari  luapan sungai, intrusi air laut, tsunami, kerusakan ekosistem mangrove  dan terumbu karang, pencemaran airtanah akibat limbah domestik dan  pertanian, amblesan tanah, abrasi, gempa, kekeringan, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dilakukan inventarisasi dampak ancaman bencana terhadap  masyarakat. Berdasarkan frekuensi dan besarnya ancaman bencana di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Upland &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Lowland &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dapat  dianalisa besarnya tingkat kerusakan yang dapat terjadi secara ekonomi  dan sosial. Inventarisasi nilai kerusakan didapatkan dari nilai rupiah  dari masing-masing unsur yang beresiko terjadi kerusakan apabila ancaman  bencana terjadi misalnya jumlah populasi yang dapat meninggal, jumlah  rumah yang dapat rusak, jumlah tambak yang dapat tergenang atau  terpolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frekuensi dan besarnya ancaman bencana dikalikan nilai kerugian  sebagai dampak jika terjadi bencana. Proses di tahap ini disebut tingkat  resiko bencana yang kemungkinan dapat terjadi.  Tiap unsur baik secara  ekonomi maupun sosial yang terkena dampak seperti resiko meninggalnya  orang, resiko suatu benda dapat mengancam kehidupan seseorang jika  terjadi bencana, dan resiko nilai ekonomi suatu infrastruktur dapat  rusak jika terjadi bencana. Berapa jumlah populasi yang terancam jiwanya  yang mendiami suatu lokasi apabila terjadi bencana longsor dan atau  banjir atau bencana lain dapat dihitung berdasarkan frekuensi dan  besarnya ancaman bencana.  Berapa potensi suatu obyek yang dapat  mengancam kehidupan manusia jika terjadi bencana, misalnya potensi  bangunan rumah dapat rubuh dan mengancam kehidupan penghuninya jika  bencana gempa dan atau longsor terjadi. Berapa nilai ekonomi suatu obyek  dapat terancam mengalami kerusakan jika terjadi bencana, misalnya nilai  ekonomi infrastruktur jalan dan fasilitas umum jika terjadi tsunami,  nilai ekonomi kehilangan flora dan fauna jika terjadi kebakaran hutan,  kerugian yang dapat diderita petani jika tambak dan lahan pertaniannya  terkena intrusi air laut. Sehingga persebaran tingkat resiko terjadinya  multi bencana di DAS dan pesisir dapat digunakan sebagai acuan untuk  merencanakan kebijakan dalam tata ruang wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan yang dapat diterapkan untuk mengatasi ancaman bencana di  DAS dan pesisir adalah dengan diproyeksikan melalui managemen penggunaan  lahan yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;landuse policy&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;.  Wujud campur tangan dan manifestasi manusia terhadap alam adalah  tercermin dari penggunaan lahan. Penggunaan lahan akan memberikan warna  dalam perencanaan tata ruang berbasis bencana. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Landuse policy&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  berbasis bencana dapat menunjukkan arahan penggunaan lahan yang  diterapkan sebagai adaptasi penanggulangan bencana. Pengamanan dan  persiapan yang dapat dilakukan untuk menghindari kerusakan ditunjukkan  di arahan penggunaan lahan. Konsep tata ruang yang berlandaskan  kebencanaan  Oleh karena itu, berdasarkan persebaran tingkat resiko  terjadinya bencana di DAS dan pesisir dibuat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;landuse policy&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; untuk mengamankan unsur-unsur yang terancam terkena dampak bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamanan unsur-unsur yang terancam bencana melalui landuse policy  dapat diterapkan dengan melakukan tindakan adaptasi terhadap lingkungan.  Tindakan adaptasi dapat berupa pembangunan infrastruktur yang dapat  mengurangi ataupun menghambat ancaman bencana. Pembangunan infrastruktur  tergantung dari jenis bencana dan elemen/unsur yang terancam. Akan  tetapi, satu pembangunan infrastruktur dapat juga untuk menanggulangi  ancaman dari beberapa macam bencana. Disamping itu, proses adaptasi  terhadap bencana tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur. Proses  adapatasi yang dapat dilakukan misalnya, pembangunan bangunan air untuk  mencegah bencana banjir dan kekeringan, penghijauan di daerah pesisir  untuk mengurangi abrasi, pemindahan pemukiman di daerah yang tidak rawan  bencana misalnya di igir bukit yang tidak rentan longsor, perilaku  masyarakat yang mengurangi pemompaan airtanah di daerah pesisir. Dengan  diketahuinya berbagai macam ancaman bencana di suatu wilayah DAS dan  pesisir, maka akan mempermudah tindakan adaptasi untuk mengatur tata  ruang wilayah yang perlu dilakukan sehingga pembangunan suatu  infrastruktur dapat berfungsi ganda, tidak saling tumpang tindih dan  bahkan tidak memacu ancaman bencana yang lain.(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8891140840491972104-2552853950823409544?l=deltu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deltu.blogspot.com/feeds/2552853950823409544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deltu.blogspot.com/2011/02/penataan-ruang-berbasis-bencana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8891140840491972104/posts/default/2552853950823409544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8891140840491972104/posts/default/2552853950823409544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deltu.blogspot.com/2011/02/penataan-ruang-berbasis-bencana.html' title='Penataan Ruang Berbasis Bencana'/><author><name>del2_ari1</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13633246207145859574</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_59Y2Gnp569E/TUpM2JyLPTI/AAAAAAAAABE/vIBftxqBA7I/s72-c/2010_06_03_05_47_16_jembatan-ct.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8891140840491972104.post-6676467793795132739</id><published>2010-12-27T01:35:00.000-08:00</published><updated>2010-12-27T02:18:28.101-08:00</updated><title type='text'>Konsep Singkat Keadilan Lingkungan, Tanpa Menggusur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_59Y2Gnp569E/TRhnRoHNXqI/AAAAAAAAAAo/RH5B9TGw6xo/s1600/gusur.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 174px; height: 248px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_59Y2Gnp569E/TRhnRoHNXqI/AAAAAAAAAAo/RH5B9TGw6xo/s320/gusur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5555303692884598434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;h6 style="text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;Oleh : Deltu Ariesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ANTARA] PERNAH membaca atau  mendengar hal ini?, "Penggusuran kuburan keramat Mbah Priuk memicu  kerusuhan berdarah di Kelurahan Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara,  Kamis (15/4)" atau "Puluhan pedagang Pasar Keputran, Surabaya, Jawa  Timur, Rabu (5/5), siap menolak rencana relokasi ke Pasar Induk  Osowilangun. Bahkan, para pedagang membawa sejumlah senjata tajam dan  membentuk pagar betis untuk menghalau aparat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau yang ini  barangkali, " Puluhan ibu rumah tangga histeris dan beberapa di  antaranya pingsan ketika petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)  menggusur 77 unit rumah warga Desa Pondok Karya, Kecamatan Pondok Aren,  Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (29/7/08)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta empiris  seringkali memaparkan secara gemblang kepada kita akan tidak adanya  keadilan lingkungan dimana masyarakat diusir dari suatu wilayah yang  menjadi bagian tetap dari kehidupannya, demi kepentingan umum tanpa  kompensasi yang memadai. Warga masyarakat menjadi kehilangan mata  pencaharian, karena mendapat penggusuran dari suatu lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit  berbicara soal keadilan, apakah pemerintah sudah pada jalur hukumnya  untuk memenuhi ukuran keadilan lingkungan selama ini. Prof. Koesnadi  berpendapat bahwa Hukum Tata Lingkungan adalah hukum yang mengatur  penataan lingkungan supaya tercapai keselarasan hubungan antara manusia  dengan lingkungannya, baik dalam pengertian fisik maupun sosial budaya.  Disini dapat kita lihat titik tekan yang seharusnya melandasi pemerintah  dalam mengambil kebijakan dalam bidang lingkungan khususnya tata ruang  perkotaan. Pendapat tersebut menempatkan manusia sebagai subyek dimana  hukum mengatur penataan ruang yang dari sudut sosial, ekonomi dan budaya  menciptakan syarat-syarat yang paling menguntungkan bagi pengembangan  hidup masyarakat di wilayah tersebut bukan menekankan pada hukum yang  mengatur penataan kegunaan dan penggunaan dari tanah yang seringkali  hanya berdasarkan informasi yang tidak berimbang dari para Insinyur  (baca: penguasa) dan sedikit dari masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada  saling sanggah dalam kasus penggusuran, antara penjelasan prosedural  untuk menambah pendapatan negara ala pemerintah dan pembelaan warga atas  nama kemanusiaan, seperti alasan kompensasi yang kurang layak,  masyarakat adat lebih berhak daripada si kaya yang mampu membeli izin  sebagai alat hukum yang paling kuat dari pemerintah, hilangnya mata  pencaharian karena pekerjaannya bergantung sepenuhnya pada lahan  tersebut. Apakah ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah itu tidak  manusiawi?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dongeng indah pernah terjadi dalam alam  kebijakan pemerintah dimana sebuah terobosan baru dari Sekretariat  Negara melalui Direksi Pelaksana Pengendalian Pembangunan Kemayoran  (DP3KK), dengan prinsip membangun tanpa menggusur penduduk setempat.  Kasus penataan kawasan bekas bandara Kemayoran yang melibatkan  cendekiawan sejak proses awalnya ini terasa sangat segar ditengah  kegersangan kesadaran bangsa Indonesia tentang perencanaan tata kota.  Namun tetap saja bila penanganan perumahan bagi masyarakat kampung  berpenghasilan rendah di dalam kawasan Kemayoran semata-mata diserahkan  pada Perum Perumnas ini juga termasuk dalam pelanggaran keadilan  lingkungan, karena kemungkinan besar sangat memberatkan tidak hanya bagi  perumnas sendiri tapi juga penduduk setempat, kita harus mengingat  bahwa keadilan harus ada di semua pihak. Membangun papan bagi kaum papa  di kota raya seperti Jakarta jelas tidak murah karena terbatasnya bahan  material, sehingga alternatif pembangunan rumah susun yang mahal tidak  bisa dihindari. Mari kita berfikir solutif!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi pertama,  sejak zaman nenek moyang kita mengenal budaya unggulan yang disebut  dengan budaya nempil atau sharing culture. Perwujudannya dalam  sehari-hari mengejawantah dalam bentuk ngenger atau nyuwito pada  keluarga priyayi yang mampu. Dalam wujud visual tata ruang permukiman  tradisional. Kita kenal bentuk-bentuk adiluhung permukiman magersari  atau sistem ngindung, yang menyuguhkan sosok kemurahan hati sang bendara  gusti, dengan cara menyisihkan sebagian lahan di dalam pekarangannya  untuk dihuni para abdi dalemnya. Konsep ini seharusnya menjadi acuan ,  tidak ditiru mentah-mentah tapi diadaptasi sesuai dengan konteks  lokalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencana dan pengelola kota seharusnya selalu  mengupayakan percampuran secara akrab dan serasi dalam setiap kegiatan  perkotaan. Kita ambil contoh saja Singapura, bila seseorang tinggal di  suatu blok rumah susun tertentu, tak akan bisa segera dipastikan tingkat  ekonominya, karena dalam blok tersebut terdapat unit-unit rumah yang  tercampur dari berbagai kelas. Bila naik bus kota maupun kereta api  bawah tanah, juga tidakbisa ditebak apakah penumpangnya termasuk kaya  atau sebaliknya. Di Indonesia belum demikian, tampak kecenderungan bahwa  dalam realita kehidupan ini, kaum punya takkan pernah mau dan rela  bercampur baur dengan kaum miskin. Orang-orang yang tinggal di Pondok  Indah, bisa dipastikan adalah orang berduit, dan yang naik bus kota  pasti tidak termasuk orang yang bergelimang harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi kedua,  zoning majemuk dengan memadukan sektor formal dan informal dalam  pertautan antara perumahan dengan lapangan kerja. Selama ini dalam  perencanaan pembangunan yang diperhatikan adalah hanya pada sisi  formalnya saja padahal bila kita sorot balik dari sejarah perkotaan yang  panjang, tidak ada yang bisa mengelak bahwa ciri khas kota-kota di  Indonesia adalah kehadiran sektor informal yang bermitra dengan sektor  formal. Hal ini didasarkan pada karakter budaya masyarakat yang senang  campur baur. Rumah tidak sekedar sebagai tempat tinggal keluarga tapi  juga tempat untuk mencari nafkah. Berbeda dengan orang Barat, yang  memiliki zona-zona yang terpetak-petak untuk masing-masing fungsi  kegiatan kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi ketiga, peran serta aktif dari  masyarakat menjadi nilai keadilan lingkungan yang paling besar dalam  menentukan masa depan perencanaan tata kota. Masyarakat diajak untuk  ikut meracik kebijakan program dan perencanaan yang menyangkut nasib  mereka sendiri. Masyarakat tidak hanya dijadikan sebagai kelompok yang  akan menerima dan memanfaatkan fasilitas yang disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  Indonesia, memang diwajibkan terselenggaranya seminar untuk memaparkan  dan membahas hasil perencanaan yang disusun oleh konsultan, namun yang  terjadi selama ini forum tersebut tidak lebih dari wahana untuk  legitimasi saja. Sekedar memenuhi persyaratan formal dan seremonial  belaka, karena masyarakat seperti ditipu, forum lebih kepada sosialisasi  produk jadi ketimbang dilibatkan dalam perencanaan sejak awal. Kembali  harus belajar dari luar negeri, tanpa bukti adanya partsipasi masyarakat  dalam perencanaan kota, dokumen perencanaannya belum diaanggap sah  untuk dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tiga solusi tersebut diharapkan dapat  terjabarkan tujuan pembangunan tanpa penggusuran dan sekaligus tidak  akan terjadi kisah sedih penggusuran tanpa keadilan lingkungan  sebagaimana yang terjadi di segenap pelosok kota besar di Indonesia  beberapa tahun terakhir ini. Pembangunan memang seringkali membawa  korban, akan tetapi adalah merupakan tugas kita bersama agar para korban  pembangunan tidak dibiarkan terus tanpa keadilan lingkungan seperti  yang di firmankan Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan di antara orang-orang yang Kami  ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak  itu (pula) mereka menjalankan keadilan" (Al A�raaf: 181). Untuk keadilan  dalam segala bentuknya, manusia yang mafhum harus berjuang.(*)&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8891140840491972104-6676467793795132739?l=deltu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deltu.blogspot.com/feeds/6676467793795132739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deltu.blogspot.com/2010/12/konsep-singkat-keadilan-lingkungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8891140840491972104/posts/default/6676467793795132739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8891140840491972104/posts/default/6676467793795132739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deltu.blogspot.com/2010/12/konsep-singkat-keadilan-lingkungan.html' title='Konsep Singkat Keadilan Lingkungan, Tanpa Menggusur'/><author><name>del2_ari1</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13633246207145859574</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_59Y2Gnp569E/TRhnRoHNXqI/AAAAAAAAAAo/RH5B9TGw6xo/s72-c/gusur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8891140840491972104.post-4885043954057948694</id><published>2009-03-13T07:54:00.001-07:00</published><updated>2010-12-27T03:23:47.438-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ingatkan ku tentang mati&lt;br /&gt;Oleh: Deltu Ariesa&lt;br /&gt;Waktu merupakan salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada kita. Sebuah anugerah yang sangat luar biasa dan juga bisa menjadi berbahaya. Tergantung bagaimana kita memanfaatkannya, karena waktu ini tidak akan bisa kembali dan akan terus menghitung mundur. 1 hari 24 jam, 1 jam 60 menit, 1 menit 60 detik. Dan setiap hari akan terus begitu.&lt;br /&gt;Allah memberikan kita setiap hari "modal" waktu kepada semua manusia di muka bumi ini adalah sama, 24 jam. Namun, ada berapa orang yang bisa seperti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rasulullah SAW : Dalam waktu 23 tahun bisa membangun peradaban Islam yang tetap ada sampai sekarang. Ikut 80 peperangan dalam tempo waktu kurang dari 10 tahun, santun terhadap fakir miskin, menyayangi istri dan kerabat, dan yang luar biasa adalah beliau seorang pemimpin umat yang bisa membagi waktu untuk umat dan keluarga secara seimbang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Zaid bin Tsabit RA : Sanggup menguasai bahasa Parsi hanya dalam tempo waktu 2 bulan! Beliau dipercaya sebagai sekretaris Rasul dan penghimpun ayat Al-Qur'an dalam sebuah mushaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Abu Hurairah : Masuk Islam di usia 60 tahun. Namun ketika meninggal di tahun 57 H, beliau meriwayatkan 5374 Hadits! (Subhanallah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Anas bin Malik : Pelayan Rasulullah sejak usia 10 tahun, dan bersama Rasul 20 tahun. Meriwayatkan 2286 Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Abul Hasan bin Abi Jaradah (548 H) : Sepanjang hidupnya menulis kitab-kitab penting sebanyak tiga lemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Abu Bakar Al-Anbari : Setiap pekan membaca sebanyak sepuluh ribu lembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Syekh Ali At-Thantawi : Membaca 100-200 halaman setiap hari. Kalkulasinya, berarti dengan umurnya yang 70 tahun, beliau sudah membaca 5.040.000 halaman buku. Artikel yang telah dimuat di media massa sebanyak tiga belas ribu halaman. Dan yang hilang lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi contoh-contoh luar biasa lainnya. Kenapa tidak banyak orang yang bisa menyamai mereka? Padahal waktu yang diberikan Allah kepada mereka sama dengan waktu yang diberikan Allah pada hambaNya yang lain? Jawabannya adalah kecerdasan manajemen waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah hal yang sangat sederhana, namun sangat sulit diterapkan. Maka dari itu, marilah kita memulai mengatur dan memanfaatkan waktu kita dengan sebaik-baiknya. Berikut ini ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengatur waktu agar lebih baik, yakni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari Menunda-nunda Pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali dari kita yang biasanya menunda suatu pekerjaan yang penting dan menukarnya dengan sesuatu yang kurang penting. Cobalah untuk belajar mengurangi menunda-nunda pekerjaan ini. Kalau Anda bilang "masih ada hari esok", maka keesokannya pun akan berkata demikian dan tak akan pernah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIPS : Buatlah catatan tugas-tugas bermanfaat yang harus dikerjakan. Majukan deadline dari yang semestinya, kalau Anda komitmen, maka Anda akan mengalami percepatan kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenali Aktivitas Harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rancanglah jadwal atau schedule harian tetap Anda, kemudian analisa di bagian mana Anda memiliki waktu sibuk dan waktu kosong. Banyak sekali orang-orang yang tidak mengetahui kebiasaan dan aktivitas hariannya, sehingga ketika disadari, ternyata mereka memiliki waktu luang yang cukup banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIPS : Buatlah tabel-tabel jadwal harian Anda dari Senin-Minggu, beserta jam-jamnya. Kemudian Anda akan temukan bahwa ada beberapa waktu luang yang bisa Anda gunakan. Tambahkan aktivitas bermanfaat dalam jadwal kosong Anda tersebut, misalkan dengan menghafal Al-Qur'an, dengan membaca buku, atau lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerti Prioritas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga sangat penting. Bila Anda tidak mengetahui arti penting prioritas, maka Anda akan bingung apabila dihadapkan pada masalah secara bersamaan. Salah satu akibat tidak mengetahui prioritas adalah alokasi waktu yang kurang tepat pada beberapa aktivitas. Tetapkanlah prioritas dari agama, keluarga, kerabat, teman, seklolah, karier, dan lainnya sesuai dengan yang semestinya. Misalkan prioritas keluarga harus lebih tinggi dari prioritas kerabat jauh. Kemudian tinjau juga dari batasan akhir (deadline) aktivitas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIPS : Buatlah sebuah list daftar aktivitas harian Anda buat hari esok. Bagilah ke dalam beberapa jenis, seperti agama, keluarga, sekolah, dan lain-lain. Berikan huruf tebal (A, B, C) pada daftar itu. A untuk yang harus terlaksana, B untuk boleh dilaksanakan, dan C bila dilaksanakan, maka Anda akan mendapat manfaat melebihi orang-orang pada umumnya. Predikat huruf ini bisa Anda ganti dan buat sendiri sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan Waktu Perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali yang meremehkan waktu-waktu luang di perjalanan. Misalnya ketika saya harus naik angkot ke sekolah yang menghabiskan waktu 45 menit. Akan sangat baik bila kita gunakan waktu tersebut untuk membaca yang bermanfaat, daripada hanya melamun dan melihat pemandangan yang tidak menghasilkan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIPS : Kalau Anda orang yang sering ada dalam perjalanan, ada baiknya membawa buku-buku tipis seperti buku saku yang mengandung materi-materi pengetahuan penting. Atau bisa juga Anda membaca buku-buku yang Anda sukai sampai tiba di tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berani Tegas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berani tegas di sini adalah belajar untuk berkata tidak. Memang adakalanya kita harus bermanfaat untuk orang lain, tetapi ada juga saat kita harus memanfaatkan waktu dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIPS : Hindari melakukan percakapan telepon yang tidak penting, bergosip ria, mengobrol ngalor-ngidul yang tidak bermanfaat, dan menolak ajakan aktivitas yang kurang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tips-tips di atas dapat bermanfaat untuk Anda semua dalam meningkatkan efisiensi waktu dan aktivitas Anda.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8891140840491972104-4885043954057948694?l=deltu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://deltu.blogspot.com/feeds/4885043954057948694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://deltu.blogspot.com/2009/03/ingatkan-ku-tentang-mati-oleh-deltu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8891140840491972104/posts/default/4885043954057948694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8891140840491972104/posts/default/4885043954057948694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://deltu.blogspot.com/2009/03/ingatkan-ku-tentang-mati-oleh-deltu.html' title=''/><author><name>del2_ari1</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13633246207145859574</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
